Saya tak seutuh hati hadir di sesi ini sebenarnya. Saya menyimpan “rasa”. Kalau bukan karena Salim yang datang menjemput, saya tak akan berusaha untuk ada disana.
Tiada menyangka saya telah hadir di sebuah hutan yang
setahun terakhir saya me-mimpi-kannya. Di penghujung tahun 2011 saya telah
membuat rencana kecil untuk melakukan pendakian gunung Bawakaraeng yang
familiar di telinga masyrakat Sulsel. Memang saya bukanlah seorang pecinta alam
yang tergabung dalam sebuah wadah atau komunitas. Saya independen. Melakukan
sebuah perjalanan atau pendakian bukan untuk sebuah tujuan, murni hanya untuk
melakukan perjalanan.
Keinginan mendaki gunung Bawakaraeng tak mewujud. Berselang
tiga bulan kemudian setelah rencana itu, nyatanya saya telah berada di puncak
perbukitan daerah perbatasan Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru. Pendakian
yang tak terlupakan sekaligus pendakian yang tak terencanakan. Hari itu, saya
dan beberapa kawan hanya berniat mengobservasi sebuah kawasan perkemahan di
lereng hutan lindung pemerintah Pangkep. Intinya, kami tersesat dan itu
menyenangkan. Sedikitpun saya tak menyesalkan kejadian itu. Saya merasakan
sensasi mendaki gunung yang telah lama mengendap di relung memori jaman SMA.
Hari itu, saya seolah kembali ke masa lalu. Lelah dan belelah-lelah. Apalagi
hujan mengguyur deras. Seluruh tubuh seketika dingin tanpa perlawanan.
Suatu malam saya menjadi sangat gelisah, ribuan imajinasi
menggelantung di pelupuk mata saya. Sudah jam 3 pagi, dan saya sudah
berbaring kurang lebih 3 jam di alas tidur. Hasilnya mata terpejam,
sedang fikir melihat kelam. Saya betul-betul gelisah.
Malam
itu saya tak pernah merasa alam bawah sadar saya beraksi hingga adzan
subuh terdengar tegas memanggil dari masjid. Saya tak menjumpai
gelombang beta menidurkan imajinasi. Setelah subuh yang masih menyisa
dingin itu, saya enggan tertidur.
Bayangan itu ternyata
adalah ketakutan, imajinasi itu adalah kesepian yang mengancam, kelam
itu ternyata adalah harapan yang tersandera. Malam itu, benar-benar saya
tak mampu "mengandai".
Kebebasan saya menjadi sebuah omong kosong. Hak asasi saya terbelenggu oleh ilusi. Itulah kegelisahan.
Hingga
pagi menyerbu gelap yang tersisa di sudut ruang, saya masih terbaring
"gelisah". Tak ada definisi untuk kejadian itu. Ingatan membuatnya
terkunci rapat dalam ruang memori. Semuanya telah terjadi, dan jangan
menyesal!
Langganan:
Postingan (Atom)
