Tiada menyangka saya telah hadir di sebuah hutan yang
setahun terakhir saya me-mimpi-kannya. Di penghujung tahun 2011 saya telah
membuat rencana kecil untuk melakukan pendakian gunung Bawakaraeng yang
familiar di telinga masyrakat Sulsel. Memang saya bukanlah seorang pecinta alam
yang tergabung dalam sebuah wadah atau komunitas. Saya independen. Melakukan
sebuah perjalanan atau pendakian bukan untuk sebuah tujuan, murni hanya untuk
melakukan perjalanan.
Keinginan mendaki gunung Bawakaraeng tak mewujud. Berselang
tiga bulan kemudian setelah rencana itu, nyatanya saya telah berada di puncak
perbukitan daerah perbatasan Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru. Pendakian
yang tak terlupakan sekaligus pendakian yang tak terencanakan. Hari itu, saya
dan beberapa kawan hanya berniat mengobservasi sebuah kawasan perkemahan di
lereng hutan lindung pemerintah Pangkep. Intinya, kami tersesat dan itu
menyenangkan. Sedikitpun saya tak menyesalkan kejadian itu. Saya merasakan
sensasi mendaki gunung yang telah lama mengendap di relung memori jaman SMA.
Hari itu, saya seolah kembali ke masa lalu. Lelah dan belelah-lelah. Apalagi
hujan mengguyur deras. Seluruh tubuh seketika dingin tanpa perlawanan.
