Undefined

Suatu malam saya menjadi sangat gelisah, ribuan imajinasi menggelantung di pelupuk mata saya. Sudah jam 3 pagi, dan saya sudah berbaring kurang lebih 3 jam di alas tidur. Hasilnya mata terpejam, sedang fikir melihat kelam. Saya betul-betul gelisah.

Malam itu saya tak pernah merasa alam bawah sadar saya beraksi hingga adzan subuh terdengar tegas memanggil dari masjid. Saya tak menjumpai gelombang beta menidurkan imajinasi. Setelah subuh yang masih menyisa dingin itu, saya enggan tertidur.

Bayangan itu ternyata adalah ketakutan, imajinasi itu adalah kesepian yang mengancam, kelam itu ternyata adalah harapan yang tersandera. Malam itu, benar-benar saya tak mampu "mengandai".

Kebebasan saya menjadi sebuah omong kosong. Hak asasi saya terbelenggu oleh ilusi. Itulah kegelisahan.

Hingga pagi menyerbu gelap yang tersisa di sudut ruang, saya masih terbaring "gelisah". Tak ada definisi untuk kejadian itu. Ingatan membuatnya terkunci rapat dalam ruang memori. Semuanya telah terjadi, dan jangan menyesal!

Kisah Tak Berdrama



*****

Suatu waktu aku duduk menyilang di jumat berkah mencoba meraba diriku dengan tegun. Menunduk saat menatap diri mencari titik tumpuh. Di surau itu aku melemah tak mampu kuat. Dulu saat aku tak punya mimpi tak pernah aku bergolak batin sekeras ini. Akhirnya aku harus hidup terlantar, mengelana bersama banyak kebiasaan buruk.

Aku belum sampai pada sebuah keputusan untuk berpindah. Jalan ini belum berderang dan aku butuh lilin penerang untuk melangkah. Di tempat ini kudapat mengingat mati. Di usia muda penuh misteri tak banyak cara membela diri. Kecuali kembali ke surau itu menengadakan kepalaku. Meminta keteguhan.

Mungkin Jumat telah berlalu, tapi aku belum maju. Beberapa saat otakku kudiamkan. Hatikulah yang berinteraksi dengan dengan sejuta firasat. Aku masih diselimuti banyak tanya “dimana aku menyimpan kaki dan tangan ini?”

*****

Infeksi Korupsi



Sebuah penyakit perusak moralitas, menggorogoti hati seluruh organisme pemikir negeri ini yang kemudian kita kenal dengan tittle korupsi. Negeri yang menempati rating kelima tertinggi tingkat korupsinya menurut Survey Persepsi Korupsi oleh Transparansi Internasional tahun 2009. Sebuah permasalahan komplit, bagai spiral yang tak menemukan tepian, melebihi kejamnya pembunuh terganas yang pernah ada. 
Mematikan besarnya arti pengorbanan mendapatkan gagahnya kibaran bendera yang harus terbayar oleh darah-darah segar mereka sang pejuang ideologi bangsa. Bagaimana tidak infeksi ini selain ganas dia juga telah berakar serabut lagi kuat ke dalam hati sanubari semua lapisan masyarakat dari kalangan istana kepresidenan, parlemen, birokrasi, praktisi, polisi, akademisi, dan ‘kasta’ modern lainnya sampai di masyarakat sipil sebagai human pyramid compotition bangsa ini. 
Pertanyaan yang kemudian menggeliat dari alam pikiran adalah masih adakah di antara 200 juta penduduk bangsa ini yang tak terinfeksi korupsi?
Korupsi sejak jaman batu sampai jaman signal ini memang sudah dikenal oleh manusia apatah lagi bangsa Indonesia yang tak mau kalah soal rating-rating negatif kelas international. Korupsi dari abad ke abad selalu mengalami proses semantik yang luar biasa, senantiasa diperhalus hingga tak menimbulkan view image yang negatif dan seolah bukan sebuah sifat sekaligus praktek yang melanggar konstitusi padahal infeksi busuk ini sangat banyak menimbulkan kerusakan mulai aspek ideologis tentang demokrasi, mempersulit terbentuknya tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal, secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikkan jabatannya bukan karena prestasi, di saat itu pula infeksi ini mempersulit legitimasi pemerintahan dan demokrasi seperti kepercayaan dan nilai toleransi, hingga menghambat jalannya pembangunan ekonomi di daerah-daerah, mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan, meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan resiko pembatalan perjanjian atau karena adanya penyelidikan. pembebasan atas keterkungkungan hak asasi dasar manusia. Moral yang terabrasi, pembangunan daerah mandeg, sekolah mahal, kemiskinan, menjadi ulasan masalah yang akan selalu hadir di tiap edisi koran dan penayangan berita setiap harinya.
Begitu banyak masalah yang meluap dan saling terkait yang pada akhirnya mengalir ke hulu yang tak lain adalah rakyat jelata, penanggung rasa nyeri yang tak pernah terdeteksi obatnya.
abcs